Senin, 30 Maret 2015

Perkembangan Islam di Myanmar



Tugas                                                                              Dosen
Sejarah Islam Asia Tenggara                                                   M. Fahli Zatra Hadi


Tugas Sejarah Islam Asia Tenggara
“Perkembangan Islam di Myanmar”


Disusun oleh :
ATIKA AQMARINA
11443201190
YEFRI ANDIKA
11443104532


Kelompok 13
2D Ilmu Komunikasi



JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2015
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan tugas Sejarah Islam Asia Tenggara “Sejarah Islam Masuk Ke Myanmar ”.
Shalawat beserta salam kita hadiahkan untuk nabi Muhammad SAW yang mana beliau telah membawa umatnya dari zaman jahiliyah ke zaman yang berisi ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan saat ini.
Dan tak lupa pula ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pengajar mata kuliah Sejarah Islam Asia Tenggara yaitu bapak Fahli Zatra Hadi. Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kehilafan dan kekurangannya, maka dari itu kritik dan saran demi penyempurnaan lebih lanjut sangat kami harapkan. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi yang berminat untuk membacanya. Aamiin












DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................... 1
DAFTAR ISI........................................................................................................  2

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang.................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah.............................................................................................. 4
C. Tujuan Pembahasan............................................................................................ 4

BAB II PEMBAHASAN
A.   Kondisi Burma ( Myammar ) Sebelum Kedatangan Islam................................5
B.  Sejarah Islam Masuk Ke Myanmar.................................................................... 5
C.  Respon Pemerintahan Myanmar Terhadap Islam di Myanmar.........................12
D.  Prilaku Mayoritas Terhadap Minoritas Islam di Myanmar...............................15
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan........................................................................................................18
B. Saran..................................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 19





BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Islam terus memutarkan roda penyebarannya, hingga ke seluruh penjuru dunia, hal ini mencakup pula wilayah Ras Melayu, yakni Asia Tenggara. Setelah Islam menyebar di daerah Timur Tengah dan mengekspansi kekuasan ke wilayah-wilayah, kini giliran Asia Tenggara yang siap disinggahi dan disebari dakwah syia’ar Islam (Badri Yatim: 2007,176). Asia Tenggara merupakan tempat Islam baru mulai berkembang, yang merupakan daerah rempah-rempah terkenal pada masa itu, dan Asia Tenggara mejadi wilayah perebutan negara-negara Eropa. Asia Tenggara menjadi salah satu bagian negara terbesar, kategorinya yakni cakupan Islam yang luas, banyak berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di wilayah ini menjadi tolak ukur tentang pernyataan bahwa Asia Tenggara merupakan wilayah Islam terbesar dan terluas penyebaran syi’ar Islamnya termasuk Negara Myanmar. Negara Myanmar dulu dikenal sebagai Birma atau Burma. Namun, pada masa pemerintahan junta militer yakni yang dipimpin oleh Jenderal Ne Win, secara resmi menukar nama negara dari Burma menjadi Myanmar pada tanggal 18 Juni 1989, dan ibukotanya dari Rangoon menjadi Yangon.
Agama Islam pertama kali tiba di Myanmar pada tahun 1055. Para saudagar Arab yang beragama Islam ini mendarat di delta Sungai Ayeyarwady, Semenanjung Tanintharyi, dan Daerah Rakhin. Kedatangan umat Islam ini dicatat oleh orang-orang Eropa, Cina dan Persia.Populasi umat Islam yang ada di Myanmar saat ini terdiri dari keturunan Arab, Persia, Turki, Moor, Pakistan dan Melayu. Selain itu, beberapa warga Myanmar juga menganut agama Islam seperti dari etnis Rakhin dan Shan. Populasi Islam di Myanmar sempat meningkat pada masa penjajahan Britania Raya, dikarenakan banyaknya umat Muslim India yang bermigrasi ke Myanmar. Tapi, populasi umat Islam semakin menurun ketika perjanjian India-Myanmar ditandatangani pada tahun 1941.
Sebagian besar Muslim di Myanmar bekerja sebagai penjelajah, pelaut, saudagar dan tentara.Beberapa diantaranya juga bekerja sebagai penasehat politik Kerajaan Burma. Muslim Persia menemukan Myanmar setelah menjelajahi daerah selatan Cina. Koloni muslim Persia di Myanmar ini tercatat di buku Chronicles of China di 860. Umat muslim asli Myanmar disebut Pathi dan muslim Cina disebut Panthay. Konon, nama Panthay berasal dari kata Parsi. Kemudian, komunitas muslim bertambah di daerah Pegu, Tenasserim, dan Pathein. Tapi komunitas muslim ini mulai berkurang seiring dengan bertambahnya populasi asli Myanmar.
B.  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah islam masuk di Myanmar?
2.      Bagaimana respon pemerintah terhadap islam di Myanmar?
3.      Bagaimana sikap mayoritas terhadap minoritas islam di Myanmar?
C.  Tujuan Pembahasan
1.      Untuk mengetahui bagaimana sejarah islam masuk di Myanmar
2.      Untuk mengetahui respon pemerintah terhadap islam di Myanmar
3.      Untuk mengetahui bagaimana sikap mayoritas terhadap minoritas islam di Myanmar



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Kondisi Burma ( Myammar ) Sebelum Kedatangan Islam
Dalam sejarah Burma tercatat bahwa negeri ini merupakan kerajaan yang telah merdeka sejak sekitar abad 266 SM hingga tahun 1782 M sebelum berada dibawah pemerintahan Burma. Dapat diketahui bahwa Burma memiliki sejarah yang panjang. Sama halnya dengan negeri-negeri di Asia Tenggara pada masa pra-Islam daerah-daerah di Asia Tenggara telah didominasi oleh agama Hindu dan Budhha, yang dibawa oleh orang-orang India melalui jalur perdagangan. Pada masa sebelum Islam masuk di Burma ( myammar ) telah terdapat beberapa kerajaan yang terletak di dua daerah yakni di daerah Pagan (Bagan) dan Arakan, di kedua daerah ini merupakan tempat dimana agama Hindu dan Budhha dapat berkembang hingga dapat masuk ke dalam kalangan kerajaan. Telah kita ketahui bahwa agama terbesar di Burma didominasi oleh agama Buddha. Hal ini dapat diketahui dari adanya para pedagang dari Cina yang telah melalui daerah ini. Hal ini terlihat dari sumber Cina, yang mana rute jalan tua melintas daratan antara Cina dan Barat, yang menyebrangi daerah bagian Utara negeri ini. Petunjuk pertama pemakaiannya tahun 128 SM, ketika Chang Chi'en menemukan hasil negeri Cina dari Propinsi Seachuan, di Bactria. Langkah – langkah diambil untuk menghubungkannya tetapi hanya pada tahun 69 SM Cina menemukan perfektur Yung Ch'ang menyebrangi mekang dengan markas besarnya di Timur Salween, kira-kira 60 mil dari perbatasan Burma sekarang.
B. Sejarah Islam Masuk Ke Myanmar.
1. Islam Pertama Kali di Myanmar
Agama Islam pertama kali tiba di Myanmar pada tahun 1055. Para saudagar Arab yang beragama Islam ini mendarat di delta Sungai Ayeyarwady, Semenanjung Tanintharyi, dan Daerah Rakhin. Kedatangan umat Islam ini dicatat oleh orang-orang Eropa, Cina dan Persia.Populasi umat Islam yang ada di Myanmar saat ini terdiri dari keturunan Arab, Persia, Turki, Moor, Pakistan dan Melayu. Selain itu, beberapa warga Myanmar juga menganut agama Islam seperti dari etnis Rakhin dan Shan. Populasi Islam di Myanmar sempat meningkat pada masa penjajahan Britania Raya, dikarenakan banyaknya umat Muslim India yang bermigrasi ke Myanmar. Tapi, populasi umat Islam semakin menurun ketika perjanjian India-Myanmar ditandatangani pada tahun 1941.
Sebagian besar Muslim di Myanmar bekerja sebagai penjelajah, pelaut, saudagar dan tentara. Beberapa diantaranya juga bekerja sebagai penasehat politik Kerajaan Burma. Muslim Persia menemukan Myanmar setelah menjelajahi daerah selatan Cina. Koloni muslim Persia di Myanmar ini tercatat di buku Chronicles of China di 860. Umat muslim asli Myanmar disebut Pathi dan muslim Cina disebut Panthay. Konon, nama Panthay berasal dari kata Parsi. Kemudian, komunitas muslim bertambah di daerah Pegu, Tenasserim, dan Pathein. Tapi komunitas muslim ini mulai berkurang seiring dengan bertambahnya populasi asli Myanmar. Pada abad ke-19, daerah Pathein dikuasai oleh tiga raja muslim India.
1.    Pada zaman Raja Bagan yaitu Narathihpate (1255-1286), pasukan muslim Tatar pimpinan Kublai Khan dan menguasai Nga Saung Chan. Kemudian, pasukan Kublai Khan ini menyerang daerah Kerajaan Bagan. Selama peperangan ini, Kolonel Nasrudin juga menguasai daerah Burma.

a.    Generasi Muslim Pertama di Burma
Generasi awal Muslim yang datang ke delta Sungai Ayeyarwady Burma, yang terletak di pantai Tanintharyi dan di Rakhine bermula pada abad ke-9, sebelum pendirian imperium pertama Burma pada tahun 1055 oleh Raja Anawrahta dari Bagan. Keberadaan orang-orang Islam dan da’wah Islam pertama ini didokumentasikan oleh para petualang Arab, Persia, Eropa, dan Cina abad ke-9. Orang-orang Islam Burma merupakan keturunan dari orang-orang Islam yang menetap dan kemudian menikahi orang-orang dari etnis Burma setempat. Orang-orang Islam yang tiba di Burma umumnya sebagai pedagang yang kemudian menetap, anggota militer, tawanan perang, pengungsi, dan korban perbudakan. Bagaimanapun juga , ada diantara mereka yang mendapat posisi terhormat sebagai penasehat raja, pegawai kerajaan, penguasa pelabuhan, kepala daerah, dan ahli pengobatan tradisional. Muslim Persia tiba di utara Burma yang berbatasan dengan wilayah Cina Yunnan sebagaimana tercatat pada Chronicles of China pada tahun 860. Orang-orang Islam Burma kadang-kadang di sebut Pathi, sebuah nama yang dipercayai berasal dari Persia. Banyak perkampungan di utara Burma dekat dengan Thailand tercatat sebagai penduduk Muslim, dengan jumlah orang-orang Islam yang sering melebihi penduduk lokal Burma. Dalam sebuah catatan, Pathein dikatakan mendiami Pathis, dan pernah dipimpin oleh Raja India Muslim pada abad ke-13. Para pedagang Arab juga tiba di Martaban, Margue, dan ada pula perkampungan Arab di kepulauan Meik.
Burma memiliki sejarah panjang tentang pendudukan oleh para tawanan perang Muslim. Pada tahun 1613, Raja Anaukpetlun menangkap Thanlyin atau Syriam. Para prajurit upahan Muslim India di tangkap dan kemudian menetap di Myedu, Sagaing, Yamethin dan Kyaukse, wilayah utara Shwebo. Raja Sane (Say Nay Min Gyi) membawa beberapa ribu tawanan perang Muslim dari Sandoway dan menetap di Myedu pada tahun 1707. Tiga ribuan Muslim dari Arakan menjadi pengungsi dibawah Raja Sane pada tahun 1698-1714. Mereka terbagi dan bertempat tinggal di Taungoo, Yamethin, Nyaung Yan, Yin Taw, Meiktila, Pin Tale, Tabet Swe, Bawdi, Syi Tha, Syi Puttra, Myae Du dan Depayin. Dekrit Raja ini telah disalin dari Perpustakaan kerajaan di Amarapura pada tahun 1801 oleh Kyauk Ta Lone Bo. Pada pertengahan abad 18, Raja Alaungpaya menyerang Assam dan Manipur India, kemudian membawa banyak orang Islam untuk menetap di Burma. Orang-orang Islam inilah yang kemudian berasimilasi untuk membentuk cikal bakal Muslim Burma. Selama kekuasaan raja Bagyidaw (1819-1837), Maha Bandula menyerang Assam dan membawa kembali 40.000 tawanan perang, kebanyakan dari mereka adalah kaum Muslimin.
Pada umumnya masyarakat muslim di Burma terbagi dalam tiga komunitas yang berbeda, dan masing-masing komunitas muslim ini mempunyai hubungan yang berbeda-beda dengan mayoritas masyarakat Budha dan pemerintah. Komunitas muslim yang terdapat di Myanmar yaitu:

1)   Muslim Burma atau Zerbadee, merupakan komunitas yang paling lama berdiri dan berakar di wilayah Shwebo. Diperkirakan mereka merupakan keturunan dari para mubalig yang datang dari timur tengah dan Asia selatan serta penduduk muslim awal yang kemudian beranak pinak dengan masyarakat Burma.
2)   Muslim India, Imigran Keturunan India, merupakan komunitas muslim yang terbentuk seiring kolonisasi Burma oleh Inggris.
3)   Muslim Rohingya (Rakhine) yang bermukim di Negara bagian Arakan atau Rakhine, yang berbatasan dengan Bangladesh.

Pada masa itu sebagian besar Muslim di Myanmar bekerja sebagai penjelajah, pelaut, saudagar dan tentara. Beberapa diantaranya juga bekerja sebagai penasehat politik Kerajaan Burma.
b.    Muslim pertama yang tercatat dalam sejarah Burma
Muslim pertama yang tercatat dalam sejarah Burma (dicatat dalam Hmannan Yazawin atau Glass Palace Chronicle ) adalah Byat Wi selama pemerintahan Mon, seorang Raja Thaton, sekitar tahun 1050 AD. Dia dibunuh bukan karena dia seorang Muslim, tetapi karena raja mengkhawatirkan kekuatannya.

Shwe Byin saudara dieksekusi
Kedua anak kakak Wi Byat Byat Ta, yang dikenal sebagai saudara Byin Shwe, adalah anak-anak dihukum mati karena mereka menolak untuk mematuhi perintah kerja paksa raja, mungkin karena kepercayaan agama mereka.  Tetapi yakin bahwa mereka membunuh bukan karena mereka Muslim atau karena mereka gagal untuk memberikan kontribusi terhadap pembangunan pagoda tetapi karena raja atau orang berjalan di koridor kekuasaan di istana khawatir tentang popularitas dan keterampilan. Ini jelas tercatat dalam Istana Kaca Chronicle dari Raja-raja Burma bahwa mereka tidak lagi dipercaya.

Pembunuhan Yaman Kan Nga
Rahman Khan (Nga Yaman Kan) adalah muslim lain dibunuh karena alasan politik, karena pengkhianatan kepada raja sendiri dan jelas bukan sebagai penganiayaan agama. Selama waktu perang, pahlawan nasional terkenal Raja Kyansittha dikirim pemburu sebagai penembak jitu untuk membunuh dia.

Pembantaian di Arakan
Lain pembunuhan massal Muslim di Arakan mungkin bukan karena alasan religius, tapi mungkin karena hanya politik dan keserakahan.Shah Shuja adalah putra kedua dari Kaisar Mogul Shah Jahan yang membangun Taj Mahal yang terkenal dari India. Shah Shuja kehilangan saudaranya dan melarikan diri dengan keluarganya dan tentara ke Arakan. Raja Arakan Sandathudama (1652-1687 M), memungkinkan dia untuk menetap di sana. Dia ingin membeli kapal untuk pergi ke Mekah dan bersedia membayar dengan perak dan emas. Tetapi raja Arakan meminta putrinya dan juga menjadi serakah karena kekayaannya Akhirnya setelah upaya gagal diduga pada pemberontakan sultan dan semua pengikutnya tewas. Orang-orang terlihat memiliki jenggot, simbol Islam, dipenggal kepalanya, bukan karena mereka Muslim, tetapi karena mereka dengan mudah diidentifikasi dari orang lain dengan fitur ini. Wanita itu dimasukkan ke dalam penjara dan membiarkan mereka mati karena kelaparan. Oleh karena itu, pembantaian ditargetkan pada pengungsi muslim dari India bukan karena agama mereka Islam, tetapi untuk alasan ekonomi atau politik.

2.    Selama pemerintahan Raja Bagan Narathihapate (1255-1286), pada masa perang pertama orang Cina dan Burma, Muslim Tartar Kublai Khan menyerang Kerajaan Kafir dan menduduki wilayah hingga ke Nga Saung Chan. Pada tahun 1283, Kolonel Nasruddin dari Turki menduduki wilayah hingga ke Barnaw (Kaungsin). Orang Turki (Tarek) disebut Mongol, Manchuria, Mahamaden atau Panthays.
Pelaut dan Pedagang Muslim
Bermula dari abad ke 7, para pedagang Arab datang dari Madagaskar melakukan perjalanan ke Cina melalui kepulauan India Timur, berhenti di Thaton dan Martaban. Orang laut Bago, mungkin menjadi Muslim, juga tercatat oleh para sejarawan Arab abad ke 10. Mengikuti perjalanan ini, pelaut dan tentara Muslim Burma dilaporkan telah melakukan perjalanan ke Melaka selama pemerintahan Sultan Parameswara pada abad ke 15. Dari abad ke 15 hingga 17, ada beberapa catatan dari para pelaut, pedagang, dan penduduk Muslim Burma tentang seluruh pesisir Burma : pantai Arakan, (Rakhine), delta Ayeyarwady dan pantai dan kepulauan Tanintharyi. Pada abad ke 17, Muslim menguasai perdagangan dan menjadi kuat. Mereka diangkat menjadi Gubernur Mergui, Raja Muda Propinsi Tenasserim, Penguasa Pelabuhan, Gubernur Pelabuhan dan Shahbandar (para pegawai pelabuhan senior).

 Para Tawanan Perang Muslim
Burma memiliki sejarah panjang tentang pendudukan oleh para tawanan perang Muslim. Pada tahun 1613, Raja Anaukpetlun menangkap Thanlyin atau Syriam. Para prajurit upahan Muslim India di tangkap dan kemudian menetap di Myedu, Sagaing, Yamethin dan Kyaukse, wilayah utara Shwebo. Raja Sane (Say Nay Min Gyi) membawa beberapa ribu tawanan perang Muslim dari Sandoway dan menetap di Myedu pada tahun 1707 AD. Tiga ribuan Muslim dari Arakan menjadi pengungsi dibawah Raja Sane pada tahun 1698-1714. Mereka terbagi dan bertempat tinggal di Taungoo, Yamethin, Nyaung Yan, Yin Taw, Meiktila, Pin Tale, Tabet Swe, Bawdi, Syi Tha, Syi Puttra, Myae Du dan Depayin. Dekrit Raja ini telah disalin dari Perpustakaan kerajaan di Amarapura pada tahun 1801 oleh Kyauk Ta Lone Bo. Pada pertengahan abad 18, Raja Alaungpaya menyerang Assam dan Manipur India, kemudian membawa banyak orang Islam untuk menetap di Burma. Orang-orang Islam inilah yang kemudian berasimilasi untuk membentuk cikal bakal Muslim Burma.
3.    Selama kekuasaan raja Bagyidaw (1819-1837), Maha Bandula menyerang Assam dan membawa kembali 40.000 tawanan perang, kebanyakan dari mereka adalah kaum Muslimin. Proses Islamisasi di arakan(myanmar) Islam masuk ke Myanmar khususnya wilayah Arakan adalah pada abad ke-1 H/7 M yang dibawa oleh para pedagang Arab yang datang ke Akyab, ibu kota Arakan. Namun Muslim di Arakan dalam proses islamisasi memakan waktu yang lama untuk mewujudkan suatu kekuasaan, mereka baru dapat mendirikan Negara Islam Arakan pada abad ke-8 H/14 M. Proses penyebaran Muslim dari pantai Arakan kemudian lanjut ke selatan dan masuknya Islam ke Myanmar tidak hanya dibawa oleh para pedagang Arab, Muslim Malaysia dan India juga mempunyai peranan yang penting dalam penyebaran Muslim di Myanmar. Kekuasaan Islam di Arakan berjalan lebih kurang selama 350 tahun dengan 48 orang sultan yang memerintah silih berganti, sehingga dijajah oleh Burma pada tahun 1784 dan penjajahan ini berlanjut dengan diambil alih oleh British pada tahun 1822. Pada tahun 1880-an orang-orang Islam di India berbondong-bondong hijrah ke Myanmar, sehingga jumlah Muslim semakin meningkat di Myanmar. Pada tahun 1948 British memberikan kemerdekaan kepada Myanmar, dengan demikian Arakan daerah kekuasaan Islam menjadi daerah kekuasaan Myanmar. Hal ini membuat Muslim tidak senang, karena mereka diperlakukan secara kejam oleh pemerintah bahkan kewarganegaraan mereka dinafikan.




C. Respon Pemerintahan Myanmar Terhadap Islam di Myanmar.
Setelah Kemerdekaan Myanmar Setelah Myanmar merdeka dari British pada tahun 1948, pemerintah Myanmar senantiasa waspada terhadap kedudukan Muslim yang penting di ibu kota Negara. Kemudian Muslim juga banyak yang mempunyai jabatan penting di pemerintahan disamping keterlibatan mereka dalam urusan perniagaan yang membuat Muslim memperoleh kemewahan dari hasil perdagangan. Hal ini telah melahirkan sentimen bagi pemerintah Myanmar dan akhirnya terjadilah kontroversi antara Muslim dengan orang Myanmar yang berakibat banyaknya nyawa orang-orang Islam yang menjadi korban.
Rasa sentimen yang begitu mendalam juga menyebabkan munculnya tindakan keganasan dari pemerintah Myanmar terhadap orang Muslim tanpa perikemanusiaan. Tahun 1930-an merupakan permulaan era kemelaratan dan penindasan bagi orang-orang Islam di Myanmar. Beberapa serangan kejam telah dilakukan terhadap Muslim pada tahun 1931 sampai 1938 dan serangan yang paling ganas serta kejam telah terjadi di Yangon dan Mandanay. Di perkirakan dalam peristiwa tersebut sebanyak 200 orang Muslim terbunuh akibat keganasan tentara Myanmar. Tanah-tanah Muslim dirampas, pemerintah dengan masyarakat Buddha juga menindas masyarakat Islam dengan memeras uang dan memaksa mereka memberi opeti serta memenjarakan mereka dengan sewenang-wenang. Sebagian umat Islam di usir dan tidak boleh kembali kekampung halamannya. Menjelang tahun 1971 dan tahun-tahun berikutnya, kekejaman yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar terhadap Muslim terus meningkat tajam. Pada tahun 1977 pemerintah Myanmar melancarkan Operasi Raja Min yang juga dikenal dengan Operasi Naga Min, yaitu operasi benci untuk memeriksa semua penduduk dan mengklasifikasikan mereka kepada dua kategori, yaitu penduduk Burma dan rakyat asing. Orang-orang Buddha mulai di tempatkan di daerah-daerah Muslim dan mesjid-mesjid dibakar, gedung-gedung perniagaan milik orang-orang Islam di kota Akyab juga dibakar. Orang-orang Islam diejek, dipukul dan dibunuh sewenang-wenang, wanita-wanita diperkosa serta sebagian besar dipaksa menikah dengan tentara Myanmar yang beragama Buddha. Kondisi yang lebih parah lagi pada tahun 1964 orang Muslim tidak dibenarkan lagi melaksanakan ibadah haji, walaupun pada tahun 1980 kebijakan itu dicabut tetapi perbelanjaannya sangat mahal dan terpaksa melalui berbagai prosedur yang sangat rumit.
Perlawanan Muslim Perlakuan pemerintah Myanmar yang tidak baik terhadap Muslim telah membangkitkan semangat Muslim untuk melakukan pemberontakan dan perlawanan terhadap pemerintah Myanmar. Apalagi keinginan otonomi tidak mendapat sahutan dari pemerintah yang sangat kejam, semakin membuat Muslim sadar karena mereka sudah diotak atik oleh pemerintah sesuai seleranya. Puncak perlawanan Muslim terjadi pada tahun 1948 berlanjut sampai tahun 1954 yang dikenal dengan Pemberontakan Mujahid yang dipimpin oleh Kasim. Namun Kasim akhirnya tertangkap, tetapi perjuangan umat Islam terus berjalan sampai tahun 1961 dalam memperjuangkan kemerdekaan dari pemerintah. Perjuangan yang pada mulanya sempat memudar akhirnya pada dekade 1970-an dan 1980-an kembali aktif. Semenjak itu, perlawanan umat Islam tidak henti-hentinya terhadap pemerintah yang selalu bertindak zalim terhadap umat Islam. Kemudian semenjak tahun 1980, Muslim dari daerah lain dipaksa keluar dari Myanmar dengan penganiayaan yang tidak kalah pelaknya dan ribuan Muslim lari ke Thailand dan Malaysia. Kondisi Muslim di Myanmar saat ini, mereka sangat teraniaya tidak mendapatkan tempat yang sama dalam urusan pekerjaan. Adapun dalam bidang pendidikan, mereka kalau sekolah di sekolah umum tidak akan mendapatkan pelajaran agama, sedangkan kalau sekolah di sekolah agama (Islam) mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk bekerja di pemerintahan sebagaimana alumni pelajar umum lainnya.  Burma Beberapa Fakta Yang Disisihkan Myanmar yang dulu dikenal dengan Burma adalah negera yang mayoritas penduduknya beragama Budha (lebih 85 %), minoritas kristen (kurang dari 4,5 %), Hindu (1,5%) yang sebagian besar tinggal di luar bandar. Populasi muslim terbesar adalah Rohingya (sekitar 3,5 juta orang). Penduduk muslim sebagian besar tinggal di Rakhine (dulu Arakan) yang berbatasan dengan Bangladesh. Sejak puluhan tahun dahulu, ratusan ribu kaum Muslimin Rohingya melarikan diri ke Bangladesh disebabkan kekejaman pemerintahan Burma dan penganut Buddha terhadap mereka. Selain Bangladesh, mereka juga melarikan diri ke Pakistan, Arab saudi, UAE, Thailand dan Malaysia untuk berlindung dan sebahagian besar dari mereka masih berstatus pelarian hingga kini. Penolakan Bangladesh dan negara muslim lainnya termasuk Malaysia membuat kaum muslim Rohingya dipaksa kembali ke Birma. Nasib mereka bertambah menderita, setelah tahun 1982 pemerintah junta Burma meloloskan satu undang-undang yang dinamakan “Burma Citizenship Law of 1982”. Undang-undang ini bersifat sentimen keagamaan dan penuh diskriminasi. Muslim Rohingya tidak diakui sebagai warganegara, malah diberi julukan ‘pendatang’ di tanah air mereka sendiri. Setelah itu, keseluruhan hak mereka dinafikan dan kaum Muslimin ditangkap secara besar-besaran, dipukul, disiksa dan dijadikan buruh paksa. Kaum muslimah Rohingya pun dilecehkan beramai-ramai dengan cara yang ganas. Pada tahun 2003, buku-buku dan pita-pita rakaman yang menghina Islam dan kaum Muslimin bisa didapati dengan mudah di seluruh Burma, malah ada yang dibagi-bagikan secara gratis. Pemerintah Burma percaya dapat menguasai Arakan selamanya jika Arakan berhasil diubah menjadi negeri Buddha sepenuhnya. Hasilnya, rakyat Burma dan penganut Buddha di Arakan khususnya yang telah diracun pemikiran mereka ini terus-terusan berusaha menghapuskan Islam dan kaum Muslimin Arakan. Pada tahun 2004, Muslim Rohingya telah dipaksa untuk mengamalkan ajaran Buddha dan dipaksa ikut upacara Buddha . Mereka dipaksa menyumbang uang di dalam setiap acara Buddha yang sering dilakukan. Kawasan ibadat kaum Muslimin juga sering dicemari dengan dijadikan tempat mengubur mayat penganut Buddha. Sementara kaum Muslimin dipaksa membayar biaya penguburan mayat saudara mereka yang meninggal. Arakan Utara dijadikan zone tentara dengan pelbagai kezaliman yang mereka lakukan atas kaum Muslimin. Muslim dieksploitasi menjadi buruh paksa untuk membangun asrama tentara, jalan, jambatan, tambak, pagoda, gudang, kolam dan sebagainya tanpa bayaran apa-apa. Kaum wanita pula mengalami ketakutan dengan peristiwa pemerkosaan yang sering terjadi di kawasan tersebut, baik oleh tentera atau pihak kontraktor yang ada. Demikianlah sebahagian dari penderitaan saudara-saudara kita di Myanmar yang tidak mendapat perhatian dan tidak terbela. Masyarakat dunia hanya cendrung hanya hirau terhadap kekejaman yang dilakukan terhadap pengunjuk rasa dari pendeta Budha. Begitu juga dengan para pemimpin kaum Muslimin yang nampaknya sangat bersimpati dan menunjukkan sokongan terhadap perjuangan demokrasi rakyat Myanmar, namun mereka tidak memperhatikan penderitaan dan kesengsaraan saudara seagama mereka yang semakin hari semakin mengerikan. Para pemimpin kaum Muslimin berusaha menyuarakan sokongan dan menuntut pembebasan seorang pemimpin demokrasi (Aung San Suu Kyi) yang dikenakan tahanan rumah. Namun mereka diam seribu bahasa terhadap ratusan ribu saudara-saudara mereka yang dibunuh dan yang sedang tersiksa dipenjara-penjara Myanmar.
D.  Prilaku Mayoritas Terhadap Minoritas Islam di Myanmar
Jumlah umat muslim di Myanmar hanya sekitar 15% dari penduduk negri yang berjumlah 7 juta jiwa. Setengah dari jumlah muslim Myanmar tersebut berasal dari Arakan, suatu provinsi di barat laut Myanmar. Di sebelah utara, wilayah Arakan mempunyai perbatasan dengan Bangladesh sepanjang 170nkm, di sebelah barat, berbatasan dengan pantai sepanjang 360 km, di sebelah timur di batasi gunung-gunung yang memisahkan dengan wilayah Myanmar lainnya.
Seringkali penduduk mayoritas di Myanmar melakukam diskriminasi terhadap orang islam yang minoritas ada di Myanmar. Konnflik yang terjadi biasanya di sebabkan oleh adanya intregritas dan identitas asli yang terganggu eksistensinya. Persoalan yang menimpa kelompok minoriatas muslim di Myanmar merupakan akumulasi dari banyak persoalan. Dari analisis Gurr, bahwa persoalan ketidak adilan ekonomi, lemahnya akses terhadap politik, pembagian pendapat yang tidak seimbang maupun persoalan untuk mendapatkan identitas dari pembentukan identitas baru, merupakan perlakuan umum yang diterima oleh kebanyakan kelompok minoritas (Robert Gurr, 1993: 38-40)
Begitu juga dengan sikap pemerintah di Myanmar terhadap minoritas umat muslim disana, pemerintah melakukan pungutan atau kerja paksa untuk membangun pagoda, menjadi portir militer sukarela,menjaga pagoda atau menyewa orang dengan biaya tinggi sedangkan mesjid dan sekolah Islam di relokasikan ke perkampungan muslim, membangun jalan raya untuk kepentingan ziarah Budha, kekerasan fisik yang bahkan mengakibatkan kematian, hambatan berorganisasi, penyerobotan tanah dan harta secara paksa, di persulit untuk pengurusan paspor dan visa untuk menunaikan ibadah haji, penyensoran terminologi dalam Al-Qur’an dan pembunuh. Perlakuan pemerintah pusat yang tidak adil di bidang sosial, budaya, politik, dan ekonomi bisa mendorong mereka untuk memberontak. Di wilayah Arakan utara yang mayoritas muslim pemerintah pusat menekankan suatu aturan baru yang menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat Rohingya, yang berkaitan dengan ekonomi. Aturan baru itu menyebutkan bahwapetani, buruh, pemotong kayu dan bambu, serta pekerja agribisnis, harus menjual produk mereka kepada agen yang telah di tentukan oleh pemerintahdalam harga yang sudah di tentukan. Mereka dilarang menjual produknya kepada orang lain. untuk memperoleh fasilitas ini, para agen banyak mengeluarkan uang yang diserakhkan kepada pemerintah.
Hambatan ekonomi sengaja diciptakan oleh penguasa agar masyarakat Arakan tidak mempunyai kekuatan untuk melawan pemerintah pusat. Walaupun demikian mereka masih mengharapkan adanya suatu perubahan. Tetapi sayangnya dalam kenyataannya masyarakat Arakan di perlakukan secara tiadak adil oleh pemerintah Myanmar. Dibawah UU Myanmar tahun1982 tentang warga negara, masyarakat Rohingya dikurangi hak kewarganegaraannya danmereka menjadi stateless. Padahal status warganegara itu penting bagi penduduk Myanmar, karena dengan status tersebut mereka berhak memperoleh hak berbagai kemuadahan sosial, pendidikan, dan kesehatan. Kondisi tersebut di perparah dengan kewajiban berbagai macam pajak, seperti pajak padi dihitung dari persentase luas tanah yang dimiliki oleh petani , bukan dari hasil panen, dan hasil panen diwajibkan di jual kepada pihak pemerintah dengan harga yang ditentukan. Perhitungan tersebut tentunya merugikan Rohingya yang sebagian besar mereka mempunyai tanah pertanian yang tidak subur.
Disamping itu mereka juga di bebankan pajak tinggi apabila mempunyai atap rumah seng, dan apabila mereka tidak menuruti pemerintah diancam hukuman berat bila tidak mau memenuhi aturan pajak yang berlaku. Sedangkan warga non-muslim yang ada disana tidak di kenakan pajak dan peraturan yang demikian. Tampaknya ada konspirasi terhadap para muslim agar mereka kelaparan dan lari meninggalkan rumahnya. Hal ini berhubungan dengan adanya rencana meningkatkan pemukiman Budhaagar terjadi perubahan demografi yang akhirnya perkembangan penduduk Rohingya terhenti. Disisi lain penguasa militer melarang keras kepada orang muslim yang ingin merenovasi , memperbaiki dan memelihara masjidyang telah ada, sekolah-sekolah agama dan peninggalan sejarah islam lainnya. Secara rutin penguasa militer menyita kekayaan, harta dan makanan menggunakan cara berlebihan untuk memperoleh apa yang di inginkann. Kebanyakan Rohingya adalah buruh kasar.

BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Agama Islam pertama kali tiba di Myanmar pada tahun 1055. Pembawanya yaitu Para saudagar dari Arab yang beragama Islam, dan mereka ini mendarat di delta Sungai Ayeyarwady, Semenanjung Tanintharyi, dan Daerah Rakhin. Kedatangan umat Islam ini dicatat oleh orang-orang Eropa, Cina dan Persia.Populasi umat Islam yang ada di Myanmar saat ini terdiri dari keturunan Arab, Persia, Turki, Moor, Pakistan dan Melayu. Selain itu, beberapa warga Myanmar juga menganut agama Islam seperti dari etnis Rakhin dan Shan. Dan pada saat sekarang ini keadaan umat islam di Myanmar sangat memprihatinkan, karena respon pemerintah Myanmar yang mengecewakan umat islam yang ada di Myanmar tersebut. Para pemimpin kaum Muslimin berusaha menyuarakan sokongan dan menuntut pembebasan seorang pemimpin demokrasi (Aung San Suu Kyi) yang dikenakan tahanan rumah. Namun mereka diam seribu bahasa atas penderitaan saudara-saudara kita yang yang dibunuh dan di penjara di Myanmar tersebut.
B.  Saran
Betapa teraniayanya saudara-saudara kita yang berada di Myanmar sana, pemimpin nya pun tak mempedulikan nasib mereka yang teraniaya dan dibunuh. Karena demi demokrasi pemimpinnya tidak mempunyai belaskasian lagi terhadap saudara-saudara seagamanya. Oleh karena itu kita sebagai umat islam, marilah mempertahankan dan menegakkan agama islam yang sesungguhnya, agar allah SWT selalu memberikan pertolongannya terhadap kita semua dalam menjalankan agam kita. Dan juga kita mendo’akan agar saudara-saudara kita yang ada di Myanmar sana selalu mendapat pertolongan dari allah SWT.


DAFTAR PUSTAKA
Suhaimi.2007 Sejarah Islam Asia Tenggara  Pekanbaru : Cv. Witra Lestari
http://kota-islam.blogspot.com/2014/02/sejarah-masuk-islam-di-myanmar.html
http://micankom.blogspot.com/2011/01/sejarah-islam-masuk-ke-myanmar.html

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com